[Review Buku] After Rain karya Anggun Prameswari

image

Bodoh. Aku perempuan paling bodoh di dunia. Jatuh cinta kepada yg tak boleh dicintai. Tahu bahwa harus berhenti mencintai. Mampu untuk berhenti mencintai. Namun, tak mau. Semata karena hatiku berkata demikian.

                         Identitas buku.
After Rain
Anggun Prameswari
Gagasmedia, 2013
324 halaman.

Ini bukan dongeng. Karena dongeng tak pernah membuatku putus asa.

Mungkin saja ini istana. Atau benteng. Kalian tahu, benteng yang kokoh itu? Seperti benteng illium yang berdiri gagah di sekeliling kota troya. Hanya saja benteng ini tak berisi bangunan megah di dalamnya. Di dalamnya semata adalah lorong-lorong panjang yang melelahkan. Barangkali juga menyedihkan. Seperti labirin. Ah aku lupa, dalam labirin itu ada juga kolam air mancur dan taman bunga, sebuah keindahan, surga yang diinginkan, namun masih tetap menyedihkan, bagiku.

Membaca buku ini seperti aku tengah menyusuri lorong-lorong labirin. Labirin pikiran. Pikiran yang membangun sendiri dunia-dunia yang ia inginkan, yang ia percayai, dengan sempurna.

Di tempat di mana aku terbiasa tersesat, di tengah labirin pikiran manusia, di sanalah aku berdiri ketika membaca buku ini. Sebuah buku yang menunjukkan sebuah dunia, sebuah ruang yang diciptakan di dalam pikiran dan diri seorang manusia, untuk menelanjangi keinginannya.

Bagi beberapa orang, buku ini akan menunjukkan bagaimana perempuan berpikir dan merasakan. Bagaimana seorang perempuan terombang-ambing dalam perasaan mencintai dan ditinggalkan serta memaknai sebuah tindakan kecil lelaki. Barangkali, sedikit banyak buku ini mengajarkan pada pembaca (lelaki) untuk memahami pikiran perempuan. Dan mengajak pembaca (perempuan) untuk melewati masa-masa yang bagi mereka sebagai suatu masa yang niscaya tak mampu mereka lewati.

Ah, tentu saja saya bicara tentang mereka yang kebanyakan, tidak semua, tapi sedikit banyak.

Buku ini berkisah dan berpusat pada sosok Seren dan Bara. Seren mencintai Bara dengan cinta yang tak pernah berubah, selama sepuluh tahun. Cinta macam apa yang tumbuh abadi selama sepuluh tahun dan masih terasa seperti perasaan cinta yang tumbuh kemarin sore? Segar dan penuh gairah? Tentu saja cinta yang (anggap saja) murni.

Seperti itulah perasaan yang Seren jaga dan naungi selama sepuluh tahun. Kepada Bara, lelaki yang sudah meninggalkannya, dan menerima perjodohan yang diupayakan oleh orang tua Bara.

Lalu datanglah godam pertama itu. Sebuah makan malam, dan cincin pernikahan yang lupa dilepas oleh Bara pada sebuah kencan rahasia mereka. Sebuah kencan perayaan aniversary hubungan mereka yang ke sepuluh tahun, sementara selama tiga tahun terakhir Bara sudah menikah dan mempunyai anak. Sejak saat itu, Seren berjalan sambil membawa palu godam, atau boneka voodoo dan sebuah jarum yang menyakiti hatinya bila ia menusukkan jarum itu ke tubuh boneka di tangannya. Bukan sekali dua kali, sepanjang cerita Seren terus saja memukul kepalanya dengan godam, kadang menusukkan jarum ke tubuh boneka voodoo. Tak sekadar di tiap persimpangan jalan, bahkan di sebuah jalan tol pun Seren menyempatkan diri berhenti dan melakukan ritual itu.

Ah mungkin saya berlebihan, bisa jadi Seren tak sengaja melakukan ritual itu. Ya, bisa jadi.

Seren, seorang sekretaris perusahaan Korea, pada akhirnya memutuskan menghentikan kiprahnya di dunia persekretarisan dan meloncat tinggi ke atas. Seren memutuskan menjadi seorang guru bahasa Inggris di sebuah sekolah swasta nan elit. Dengan segala macam cerita yang terjadi kemudian, seperti yang telah lama dan sama-sama kita ketahui, Seren bertemu dengan pangeran itu, elang. Seorang guru musik yang merupakan lelaki impian perempuan manapun, barangkali.

Demi kepentingan cerita maka saya tak berniat melanjutkan bagaimana kisah romansa mereka berkelindan, saling tumpuk, dengan godam yang masih memukuli kepala Seren.

Bagaimana lika-liku hidup Seren dan Bara serta Elang? Iqro. Bacalah. Bacalah buku ini, wahai orang-orang yang beriman.

Kelebihan: penulis mampu secara dalam menggambarkan pergulatan batin si tokoh utama. Upaya penulis untuk menghadirkan sudut pandang seren patut diacungi jempol.

Kekurangan: ada beberapa hal yang sempat mengganggu saya.

Di antaranya adalah saat Elang, yang diciptakan/dibangun dengan citra dingin dan cuek, pada satu momen keceplosan saat tiba-tiba ia menjadi kepo dan bertanya ‘dia cerita apa?’ Gambaran cuek itu langsung hancur.

Lalu sosok Bara, sungguh tak dapat saya terima, saat istrinya mencoba bunuh diri, dan saat anaknya Lily histeris karena melihat ibunya mencoba bunuh diri, yang dilakukan Bara adalah membiarkan istrinya di klinik dan menitipkan anaknya pada mertuanya, lalu dia pergi mencari selingkuhannya untuk bertanya apa yang harus ia lakukan?? Sounds so weird.

Sebuah upaya yang dilakukan oleh penulis dalam menggambarkan ciri khas setiap karakter pada akhirnya jatuh pada jurang kebosanan. Bagaimana secara konsisten penulis menunjukkan ‘aku me-anu-kan rambut ke belakang telinga’ ‘aroma aftershave pepermint‘ ‘memasukkan tangan ke dalam saku celananya’ bagi saya adalah sebuah upaya gagal dalam memberi ciri khusus pada sebuah karakter. Ah, mungkin tidak gagal, hanya saja membosankan.

Yang lebih membosankan sih cara dia menggambarkan bagaimana setiap tokoh berpakaian. Hmm…

Pada akhirnya, saya kemudian merasa lelah membaca proses tarik ulur itu. Bagaimana saya tersesat dan mencoba berjalan lembali menyusuri lorong-lorong labirin, yang saya lakukan mungkin sebuah perbuatan curang. Mau apa lagi? Saya cuma berpikir tentang pintu keluar dari labirin itu. Maka saya menaiki tembok labirin, memperhitungkan jalan pintas terdekat dan meloncat seperti tupai demi sampai pada pintu keluar. Pada bab-bab terakhir yang saya lakukan adalah hanya membaca dialog dan mengabaikan narasi/deskripsi yang disajikan. Saya capek!

Saya memberi 2 dari 5 bintang untuk buku ini.

*review ini dibuat oleh @alandesoisons dan telah dibahas bersama di grup wa Love Books A Lot.

Advertisements

[Info]: New Group Sharing WhatsApp Lobaloid

Halo, L.

Senang sekali kami bisa menyapa teman-teman semua. Di kesempatan kali ini, kami ingin berterima kasih pada seluruh anggota yang masih ataupun yang sempat bergabung dengan grup sharing whatsApp Lobaloid yang telah dibuat atas dasar ingin membuat suatu wadah interaktif dan sebagai media forum bagi para pecinta buku khususnya yang ingin belajar dan juga berbagi ilmu dan informasi seputar dunia literasi dan lingkungan sekitar kita.

Grup sharing WhatsApp ini diisi oleh mereka dengan latar belakang buku bacaan yang berbeda. Banyak sekali ragam informasi yang didapatkan di sana. Ditambah dengan dijadwalkannya sesi sharing dan review buku yang sudah dilakukan selama 3 bulan terakhir. Kegiatan ini sangat berdampak positif bagi anggota grup tentunya, dengan semakin bertambahnya anggota dari hari ke hari.

Melihat kondisi ini, kami berinisiatif untuk membuat sebuah sub-forum grup sharing whatsApp setelah grup utama ini. Adapun tujuan sub-sub forum ini tentu ingin membuat dan memberikan nilai lebih baik lagi kepada para anggota. Sub forum grup WhatsApp yang akan dibuat pertama ini bertajuk ‘Ngulik Cerpen’. Adapun teknisnya sebagai berikut:

  • Anggota terbatas, hanya anggota Lobaloid dan hanya 30 orang saja.
  • Cerpen diambil dari karya warga Lobaloid dan akan dilakukan pemilihan karya siapa yang akan diapresiasi di sesi Ngulik Cerpen ini oleh pembahas utama di setiap sesinya.
  • Bagi peserta yang ingin mengikuti kegiatan ini, diharuskan untuk daftar dimulai dari H-14 kepada moderator Grup WA Lobaloid, Dhila (0857 5691 3473).
  • Kegiatan ini terbuka bagi kamu yang berminat untuk belajar menulis dan bercerita.

Jadi, tunggu apa lagi. Jangan lewatkan pengalaman belajar ini dengan hanya bercuap-cuap di twitter atau grup WhatsApp saja ya…

Seeyaaaa…

L.

Read A Lot, Share A Lot.

[Cerpen, LBBK] Analogi Cinta yang Absurd

                            “Cinta itu kayak pup. Kalau ditahan bisa jadi penyakit dan bikin sesak. Tapi kalau dikeluarin, belum tentu juga hasilnya baik.” -Itty-
image

*
“Hai Sipit yang daerahnya suka mati lampu!” sapa Djamall. Sadis.

Perempuan cantik bermata sipit yang baru saja disapa oleh Djamall kontan membalas dengan tatapan sinis. “Je, aku punya nama. Panggil Putri, Fathia boleh, Itty apalagi. Ammoy kalau Mama lagi marah aja. Asal jangan dipanggil sayang!” cerocosnya.

Djamall terbahak. “Oke Patiak!”

“Muhammad Jamaluddin! Fathia bukan Patiak, woy! Lempar pup, nih!” Putri makin sewot. “Harus diulang berapa kali, sih?! Udah dua tahun sekelas juga masih aja manggil-manggil nama enggak jelas!”

“Hahaha. Kalau marah, matamu makin segaris tuh. Hidung makin pesek, dasar Ratu Pup. Hahaha.”

“Auk ah lap!” Putri beranjak meninggalkan teman kampusnya itu, yang masih terkekeh di tempatnya.
*
Diah membuka pintu kamar kos-an dan menemukan Putri sedang membaca buku sambil sambil tiduran. Diah ikut berbaring di samping teman sekamarnya itu.

Sama seperti Putri, Diah juga adalah mahasiswa pendatang di Jakarta. Putri yang anak Medan bertemu dengan Diah yang berasal dari Surabaya sejak mereka mahasiswa baru, dua tahun lalu, saat sama-sama ingin mencari kos-kosan.

“Tumben cepat pulang, Put? Biasanya kalau hari Kamis aku yang duluan nyampe kos.”

“Rapat diundur ntar sore. Males di kampus, adanya si Dije doang. Itty dikatain mulu sama tuh Duta Typo!” jelas Putri panjang lebar. Perhatiannya masih tertuju pada novel yang dia baca.

“Kamu berantem terus sama Djamall nanti saling suka, lho. Haha.”

Akhirnya Putri menyerah untuk fokus membaca buku. Ngobrol dengan Diah nantinya bakal panjang urusan, pikirnya. Putri lalu menyimpan bukunya di samping bantal.

“Diah-ku sayang, Itty sama Dije cuma teman biasa. Teman berantem. Teman sekelas. Teman satu organisasi. Teman. Titik. Sampai kapanpun.”

“Ya, lihat saja nanti, sih. Sekarang boleh berantem-berantem, Put. Setelah itu saling punya nama kesayangan. Ratu Pup dan Raja Typo. Patiak dan Dije. Terus, nanti saling suka deh kalian,” cerocos Diah dengan logatnya yang khas.

“Ih, lempar pup nih! Pokoknya enggak! Jangan samain pengalaman kamu yang dari teman curhat terus saling suka-sukaan itu deh yaaa. Kita beda!” Putri masih saja sewot.

Diah mencubit lengan Putri. “Apa salahnya sih, dari teman curhat terus saling suka? Toh pada akhirnya aku sama dia enggak jadian juga kan? Suka sih, suka aja.”

“Iya, kan kamu sama Daeng Makassar-mu itu ga jadian karena emang kalian enggak direstui kan? Weeekkk.” Putri menjulurkan lidahnya ke arah roomate-nya itu.

Diah kontan diam. Dalam hati mengiyakan kata-kata Putri. Dia dan lelaki di seberang pulau sana memang saling suka, tapi sayangnya orang tua lelaki itu cukup menjunjung ‘perjodohan antar-suku’.

Melihat sahabatnya diam, Putri langsung terbahak. “Hahaha. Kan, kena kau! Siapa suruh godain aku duluan. Kubalikinlah kata-kata kau itu!” Dan akhirnya logat Bataknya pun keluar.
*
“Mas Jam, gimana hasil berita yang saya setor kemarin?” Djamall duduk di samping seniornya–yang kebetulan memiliki nama mirip dengannya–di Lembaga Pers Kampus.

Jamal adalah senior sekaligus editor untuk koran di kampus tempat Djamall kuliah. Kebetulan pula Djamall dan Putri adalah anggota redaksi dari LPK.

Putri juga ada di ruangan bersama Jamal dan Djamall. Dia cukup akrab dengan seniornya yang sudah tiga tahun lalu lulus kuliah itu.

“Seperti biasa, Mall, masih banyak salah ketik. Tapi selain itu, reportasemu makin bagus. Untungnya kamu juga rajin nulis, ya.”

Putri tertawa. “Kan, Raja Typo!”

Djamall memandang jutek ke arah Putri. “Hmm… gitu, ya, Mas? Nanti saya benerin lagi sebelum deadline. Soal yang rajin nulis, memang harus sering dipaksa. Kalau tidak maksain diri sendiri buat nulis, ya saya tidak bakal nulis, Mas.

“Saya sih menerapkan satu hari satu tulisan. Terserah mau nulis apa saja, yang penting nulis,” jelas Djamall.

“Beuh! Dije, soal yang itu, kau mantap!” puji Putri tulus. Dari awal masuk organisasi dia selalu memanggil Djamall dengan sebutan Dije. Katanya untuk membedakan Mas Jamal dengan Djamall.

“Tuh, Putri, tiru Djamall deh soal rajin menulisnya. Tapi jangan soal typo-nya, ya. Hahaha.” Jamal tertawa.

Djamall tertunduk sambil berkata, “Maaf, Mas, kalau masih ada salah-salah dalam penulisan. Saya masih perlu banyak belajar dari Mas Jamal. Mohon bimbingannya.”

Putri dan Jamal kontan tertawa. “Hahaha. Kaku banget sih, Je. Kayak kanebo aja! Hahaha–” kelakar Putri.

Djamall lagi-lagi memandang Putri dengan kesal.

“Hahaha. Eh, Mas Jam, gimana sama Mbak yang suka sama Dewi Lestari itu? Kalian sudah jadian?” Putri balik menggoda seniornya.

Jamal tersenyum. “Belum, sih. Tapi setidaknya sekarang kalau ngobrol sama dia sudah punya bahan. Kemarin kita bahas soal Supernova-nya Dewi Lestari. Mungkin besok-besok bahasannya ke Murakami. Dia suka sekali dua penulis itu.”

“Emang Mas Jam sudah pernah baca buku karya Murakami? Yang Dewi Lestari aja kemarin katanya perlu waktu seminggu buat menyelesaikan. Haha.”

“Ini masih dalam tahap menyelesaikan Norwegian Wood, Put.”

Putri tersenyum, membuat matanya jadi kelihatan segaris. “Semua demi cinta, ya, Mas ….”
*

Begitulah, cinta itu kadang kayak pup. Kalau ditahan bisa jadi penyakit dan bikin sesak. Tapi kalau dikeluarin, belum tentu juga hasilnya baik.

Diah, roomate saya, harus menahan hati untuk tidak berharap lebih pada lelaki Makassar. Harus menahan hati untuk menyayangi tanpa berharap kelak mereka bakal bersatu. Seperti sesak pup saat mau tidur. Sesaknya kayak Diah, mencintai orang yang bakal dijodohin sama orang lain.

Cinta itu aneh, kadang-kadang. Bisa membuat orang-orang melakukan apapun demi orang yang dia sayangi. Seperti Mas Jamal, senior saya di kampus, yang rela membaca buku-buku karya Dewi Lestari dan Haruki Murakami, buku yang sebelumnya tak pernah dia ‘sentuh’. Tapi demi ngobrol dengan Mbak cantik berjilbab itu, dia rela melumat habis buku-buku tersebut.

Kisah Mas Jamal mungkin yang paling indah. Persis kayak lagi kebelet dan pas nemu kamar mandi. Tapi belum tentu hasilnya bagus. Bergantung gimana nantinya, deh. Hehehe.

Yang susah sih, suka sama orang tapi orangnya suka sama sesama jenis.

Lalu, pertemanan saya dengan Dije si Raja Typo itu … yang kata Diah sewaktu-waktu saya bisa saja saling suka dengannya. Saya tidak tahu gimana ke depannya. Tapi, untuk saat ini saya dan Dije cukup dengan berteman saja.

Kami seperti pup dan tissue toilet. Forever friend:)

Hmmm…
Sebenarnya, yang pup-nya paling tidak sehat adalah saya.

Kenapa?

Sebab sampai sekarang saya masih belum bisa melupakan empat tahun kita yang mesti sia-sia hanya karena kamu pindah ke kota lain.

Saya masih sayang kamu.

Tapi …

Saya benci berjarak.
Saya bukan penganut LDR!

Posting ….

**
-Tulisan ini diikutsertakan dalam Lelang Buku Bayar Karya Grup WA Love Books A Lot Id (@lovebooksalot). Jika ada kesamaan nama dan karakter, adalah kesengajaan terkait persyaratan LBBK.-

-dhilayaumil-

[Program]: LELANG BUKU BAYAR KARYA DENGAN MENGANDUNG KATA-KATA DESEMBER, JARAK, DAN SINGGAH. BERANI?

“Lelang Buku Bayar Karya”

Selamat Desember, L. \o/

Kali ini LBBK hadir lagi. Ada tiga buku yang dilelang untuk satu orang pemenang khusus warga Lobaloiders.

Sponsor kita kali ini belum mau disebutkan namanya. (Sok misterius kayaknya)

Kamu tak perlu membayarnya dengan uang; melainkan bayarlah dengan karya yang akan tetap menjadi milik kamu.

Berikut ketentuan lelang:

A. Buku yang akan dilelang adalah tiga buku masing-masing:
– “The Host” karya Stephenie Meyer (tidak tersegel)
– “Humaira” karya Kamran Pasha (tidak tersegel)
– “Singgah” Kumcer karya Bernard Batubara, dkk. (tidak tersegel).

Hadiah Lelang Karya

Hadiah Lelang Karya

Semua buku tersebut hanya untuk satu orang pemenang lelang saja.

B. Peserta lelang terbatas untuk anggota grup LoBALoID (WA & milis)

C. Peserta lelang hanya boleh mendaftarkan 1 (satu) buah karya.

D. Syarat karya yang didaftarkan:
– Berupa karya fiksi yang di dalamnya mengandung kata-kata: DESEMBER, JARAK, dan SINGGAH
– Tulisan merupakan karya asli peserta lelang.
– Tulisan belum dipublish di blog/media sosial manapun sampai pemenang lelang diumumkan.
– Minimal 500 kata. Maksimal 2000 kata. Diketik dengan format: word A4, TNR 12.

E. Karya dikirim berupa attach ke email pampam: dhilayaumil@gmail.com dengan subyek LBBK DESEMBER. Tuliskan nama peserta dan judul karya di badan email

F. Peserta harap konfirmasi via japri ke 085756913473 (pampam) jika sudah mengirim email.

G. Deadline lelang: Tanggal 22 Desember 2013 Pukul 23.59 WIB.

H. List peserta akan diumumkan tanggal 23 Desember 2013 via japri ke masing-masing peserta.
Jika ada peserta lelang yang sudah mendaftar tapi tidak mendapat konfirmasi pada hari itu, maka koreksi hanya bisa dilakukan pada hari yang sama (23/12).

I. Penilaian akan dilakukan oleh dua orang secara blind judging.
Penilai hanya diberikan judul dan karya tanpa disebutkan penulisnya. Nilai pemenang adalah hasil kumulatif keduanya.

J. Pemenang lelang diumumkan paling lambat pada 28 Desember 2013 dan karyanya akan diposting di blog L.

K. Jika hanya ada satu peserta lelang pada batas akhir pengiriman karya, maka satu-satunya peserta itu akan langsung menjadi pemenang lelang tanpa perlu penilaian.

L. Hak cipta atas masing-masing karya tetap ada pada penulisnya.

Selamat berkarya! 

[Sharing] Jenis-Jenis Proposal oleh Avira Winata

Proposal adalah suatu bentuk pengajuan atau permohonan, penawaran baik berupa ide, gagasan, pemikiran, maupun rencana kepada pihak lain untuk mendapatkan dukungan ijin, persetujuan, dana, dan lain sebagainya (Hariwijaya, 2005:12-13).

Kata proposal sendiri berasal dari bahasa Inggris “to propose” yang artinya mengajukan. Sedang dalam KBBI proposal berarti rencana yang dituangkan dalam bentuk rancangan kerja.

Proposal sebagai bentuk pengajuan mengambil bagian yang sangat penting dalam keberhasilan sebuah proyek atau kegiatan yang akan dilakukan. Untuk itulah, maka kita harus bisa menuangkan ide dan gagasan kita sebaik-baiknya dalam proposal ini agar pihak yang akan kita ajak kerjasama tertarik untuk ambil bagian dalam kegiatan yang diajukan.

Secara umum proposal.dapat dibedakan menjadi 4 jenis:
1. Proposal bisnis. Sesuai dengan namanya, proposal ini berkaitan dengan usaha seseorang atau suatu kelompok. Contohnya adalah proposal pendirian usaha atau proposal kerjasama antar dua perusahaan.
2. Proposal proyek, mengacu pada dunia kerja, berisikan serangkaian rencana dalam sektor bisnis atau komersil. Contohnya, proposal proyek perumahan.
3. Proposal penelitian. Merupakan pengajuan kegiatan penelitian. Sering digunakan dalam kegiatan akademisi seperti penelitian untuk pembuatan skripsi, tesis, dsb.
4. Proposal kegiatan/ event adalah pengajuan rencana sebuah kegiatan yang dilakukan oleh satu individu atau kelompok. Contohnya adalah proposal kegiatan 17 Agustusan.

Sistematika Penulisan

Berikut contoh sistmatika penulisan sebuah proposal kegiatan (secara ini yg sering kita pakai)

1. Pendahuluan
Berisi tentang hal dan kondisi umum yang melatarbelakangi dilaksanakan kegiatan

2. Dasar Pemikiran
Berisi tentang dasar yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan.

3. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan tersebut ( umum dan khusus)

4. Tema
Tema yang diangkat dalam kegiatan tersebut

5. Jenis Kegiatan
Sekaligus digunakan untuk menjelaskan rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan.

6. Target
Berisi uraian ukuran yang digunakan sebagai penilaian tercapai atau tidaknya tujuan

7. Sasaran/Peserta
Menjelaskan tentang objek atau siapa yang akan mengikuti kegiatan tersebut.
8. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Tentukan dimana, hari, tanggal, bulan, tahun serta pukul berapa akan dilaksanakan kegiatan tersebut.

9. Anggaran Dana
Biasanya hanya disebutkan jumlah perkiraan pemasukan dan pengeluaran.  Rinciannya ada dalam lampiran proposal.

10. Susunan Panitia. Ditulis secara garis besar. Kepanitiaan lengkap ada dalam lampiran.

11. Jadwal Kegiatan
Dibuat sesuai dengan perencanaan lengkap dengan kalender Kegiatan

12. Penutup
Berisi harapan yang ingin dicapai, lembar pengesah proposal

13. lampiran

Isi dan sistematika penulisan proposal dapat dimodifikasi sesuai dengan tujuan proposal itu sendiri. Contoh untuk proposal yang bertujuan mencari sponsor maka dapat dimasukan penawaran sponsorship. Atau proposal usaha/ bisnis dapat memasukkan profil perusahaan, struktur organisasi, produk perusahaan, target pasar, dll.

Dalam membuat proposal dibutuhkan kemampuan mengelola bahasa dalam menyampaikan maksud dan tujuan agar si pembaca paham dan usulan tersebut diterima. Beberapa pihak bahkan mulai memakai tenaga-tenaga ahli yang memahami benar bagaimana cara membuat proposal yang bagus.

Menulis sebuah proposal apalagi yang bertujuan mendapatkan pendanaan dari donor tidak hanya ditentukan pada metodologi atau pendekatan.
Beberapa hal yang patut diperhatikan  diataranya adalah relevansi, urgensi mengapa perlu didanai, apakah memiliki sumber daya yang memadai untuk melaksanakan rencana kegiatan yang disampaikan dalam proposal.

Tata organisasi yang baik serta pengalaman dalam mengelola kegiatan lainnya merupakan salah satu unsur yang bisa dimasukkan ke dalam proposal sebagai jaminan bagi pihak calon pendana bahwa kegiatan akan berjalan lancar.

[Review buku] Belajar Terbang karya Meiliana K. Tansri

Judul: Belajar Terbang
Penulis: Meiliana K. Tansri
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2002
Genre: Romance
Tebal buku: 126 halaman

Sumber: Google

Sumber: Google

Reffe, seorang gadis yang pergi dari rumah dan memusuhi ibunya karena merasa ibunyalah yg menyebabkan ayahnya pergi dari rumah. Reffe tumbuh sebagai gadis yg kehilangan kasih sayang orangtua nya dan mencoba mencari kesenangan yang semu.
Reffe akhirnya pulang kembali ke rumah setelah dinyatakan menderita aids. Dia pulang bersama dengan rasa kehilangan akan kesempatan-kesempatan dan harapan yang selama ini ada. Sesampainya di rumah, dia bertemu dengan anak angkat ibunya yang bernama anya. Anya seorang anak yang cerdas dan aktif.
Pada hari minggu, anya mengajak reffe untuk ke gereja bersama. Di gereja, reffe bertemu seorang pemuda yg bernama emil. Emil, seorang konduktor koor gereja yang hanya memiliki satu lengan. Saat itu, reffe suka melihat rahang dan senyum emil.
Dan pada kesempatan2 yang lain, reffe mulai sering bertemu emil dan berbicara tentang kehidupan. Emil sudah mengetahui apa yang terjadi pada reffe dan mulai memberikan arahan2 tentang bagaimana hidup adalah berjuang dan belajar. Perlahan-lahan, reffe mulai berubah. Dia mulai mengasihi ibunya, membangun kesempatan2 yang ada lewat dukungan orang2 sekitarnya, dan mulai mencoba mencintai emil meskipun rasa takut menderanya karena mengangggap dirinya rongsokan..

Kelebihan: ceritanya tidak bertele-tele, banyak bertebaran kata-kata bagus, dan banyak nasehat yg bisa kita ambil dr buku ini.

Kekurangan: konfliknya kurang kuat, kurang membuat kita penasaran, dan endingnya mudah ditebak

Point: 3, 5 of 5

Oleh: Irna Bontor Febyola

[Review buku] Burung-Burung Manyar karya Y. B. Mangunwijaya

Judul : Burung-Burung Manyar
Penulis : Y. B. Mangunwijaya
Penerbit : Djambatan
Tahun terbit : 1999, cetakan kedelapan
ISBN : 979-428-358-4

Sumber: Google

Sumber: Google

Saya termasuk orang yang tidak peduli dengan cover buku, jadi saya tidak akan membahas cover buku ini. Judul, selain cover, juga bukanlah hal yang membuat saya tertarik pada sebuah buku atau tidak.

Buku ini terbagi atas tiga bagian, bagian pertama menceritakan peristiwa antara tahun 1934-1944, lalu bagian kedua menceritakan peristiwa antara tahun 1945-1950, dan bagian ketiga menceritakan peristiwa antara tahun 1968-1978.

Bagian pertama, seperti kita tahu, tahun 1934-1944 adalah tahun sebelum masa kemerdekaan Indonesia. Bagian pertama buku ini menceritakan masa kecil Teto dan Atik, tokoh Utama buku ini. Teto, atau yang mempunyai nama asli Setadewa, adalah anak dari seorang ningrat Jawa yang menjadi seorang Letnan KNIL, yang lahir dari rahim seorang perempuan Belanda. Sementara Atik, Larasati, anak dari ibu yang masih punya hubungan dengan lingkungan keraton, dan seorang ayah dari rakyat, bukan keturunan ningrat Jawa. Pada bagian pertama ini diceritakan bagaimana Teto dan Atik tumbuh dalam dunia yang berbeda. Teto, yang Papi dan Maminya yang kental dengan pengaruh dari Belanda, tumbuh dengan menjalani kehidupan anak kolong, yang sedikit banyak kemudian memengaruhi bagaimana Teto memandang hidup. Sementara Atik, tumbuh menjadi perempuan berpendidikan yang bisa dibilang perempuan modern, namun tetap tidak melupakan akar budayanya sendiri.

Pada bagian kedua buku ini, menceritakan tentang peristiwa yang terjadi di rentang tahun 1945-1950. Diceritakan bagaimana peristiwa selama masa kemerdekaan mengubah kehidupan Teto dan Atik secara drastis, dan bertolak belakang. Teto, yang menaruh kebencian kepada Jepang, yang telah merenggut keluarganya, kemudian menjadi tentara KNIL, melawan republik yang menurut pemahamannya adalah sekutu Jepang. Sementara Atik yang berpendidikan baik, berdiri di pihak republik.

Di bagian ketiga buku ini, diceritakan Teto dan Atik pada usia matang mereka. Ah, sebaiknya saya tak bicara terlalu banyak tentang bagian ketiga ini, tidak adil rasanya kalau saya bicara terlalu banyak, saya takut bahwa ada kemungkinan saya merenggut keasyikan membaca buku ini.

Buku ini terbit pertama kali pada tahun 1981, dari sana saya kemudian menjadi maklum dengan begitu banyaknya kata-kata yang masih menggunakan bahasa Jawa dan Belanda. Tapi tak menjadi soal, sebab ada banyak catatan kaki seandainya tidak paham dengan beberapa kata bukan dalam bahasa Indonesia. Dengan ejaan dan tata bahasa yang belum menggunakan EYD bahasa Indonesia mutakhir, hal itu justru membuat saya menikmati bahasa yang digunakan penulis, seperti juga saya menikmati tulisan-tulisan klasik penulis Indonesia.

Kekurangan: ada jeda panjang antara bagian kedua dan bagian ketiga. Meskipun dijelaskan sedikit pada bagian ketiga, tetap saja saya merasakan kehilangan peristiwa-peristiwa yang membentuk Teto menjadi Setadewa di bagian ketiga.

Kelebihan: dari buku setebal 260 halaman ini, penulis mampu menyajikan buku yang kaya gagasan. Hingga bab terakhir, saya masih belum bisa menebak akhir yang akan diberikan penulis.

 

Oleh: @alandesoisons

[Sharing] Panji Koming oleh Puthut Kurniawan

Panji Koming adalah strip komik ciptaan kartunis Dwi Koendoro yang secara berkala diterbitkan di surat kabar Kompas edisi Minggu sejak 14 Oktober 1979. Nama komik ini berasal dari nama tokoh utamanya, Panji Koming, yang hidup pada masa Kerajaan Majapahit. Selain singkatan ‘Kompas Minggu’, Koming juga berarti ‘bingung’ atau ‘gila’. Meskipun mengambil setting masa lalu kasus yang diangkat sering kali dikaitkan dengan hal-hal aktual yang terjadi di Indonesia masa kini, terutama masa Orde Baru dan sesudahnya. Strip komik ini ditulis oleh Dwi Koendoro, meskipun kadang-kadang dikerjakan oleh putranya. Strip komik ini diciptakan oleh Dwi Koendoro atas saran kartunis G.M. Sudharta.
Tokoh Panji Koming adalah seorang pemuda kelas menengah bawah yang memiliki karakter lugu dan agak peragu. Ia memiliki pacar yang bernama Ni Woro Ciblon yang cantik, pendiam dan sabar. Dalam kehidupan sehari-hari, Panji Koming memiliki kawan setia bernama Pailul yang agak konyol namun lebih terbuka dan berani bertindak. Kekasih Pailul adalah Ni Dyah Gembili, perempuan gemuk yang selalu bicara terus terang.
Tokoh protagonis lain adalah “Mbah”, seorang ahli nujum yang sering ditanya mengenai masalah-masalah spiritual serta seekor anjing buduk yang dijuluki “Kirik” (anak anjing dalam bahasa Jawa). Tokoh antagonis yang sering kali menjadi objek lelucon adalah seorang birokrat gila jabatan yang bernama Denmas Arya Kendor.
Tentang Dwi Koendoro
Tokoh kelahiran Banjar 13 Mei 1941 ini, terlahir sebagai sosok multi-talenta. Masa kecilnya dihabiskan di Bandung. Beliau jatuh hati pada dunia perfilman pada usia 6 tahun. Setiap ke pasar malam, yang ditongkronginya adalah film. Film-film kartun Walt Disney menjadi favoritnya. Bakat menggambarnya yang kuat, menjadi modal yang tidak sia-sia. Pada usia 14 tahun, hasil coretannya berupa kartun-kartun sudah menghiasi majalah Teratai yang terbit di Jakarta.
Panji Koming terlahir sebagai ”pelepasan” kreatif dan segala uneg-unegnya dari sifat pekerjaannya di Gramedia Film yang lebih banyak menangani pekerjaan non kreatif. Tahun 1982 ia mengundurkan diri karena merasa kurang cocok diposisi tersebut. Tiga tahun kemudian, tepatnya 1985, Dwi Koen mendirikan PT Citra Audivistama – perusahaan yang bergerak dibidang film animasi, iklan, dokumentar dan slide program.
Pengalaman dan kreatifitasnya berbuah penghargaan Piala Citra sebagai sutradara terbaik untuk film dokumentar ”Sepercik Kenangan, Segelombang Teladan” pada FFI 1981.
Kini, 34 tahun sudah Panji Koming hadir setiap Minggu. Tokoh ini telah menjadi ikon karakter yang kritis tapi jenaka. Bisa menjadi insiprasi serta bahan perenungan dalam menyikapi kondisi bangsa Indonesia. Hingga saat ini beliau hampir tidak mengenal istilah weekend, karena setiap Sabtu ”kelakar kritis” Panji Koming harus dikirim ke Kompas agar bisa terbit pada hari Minggu.

[Review buku] Where The Mountain Meets The Moon karya Grace Lin

Judul: Where the Mountain Meets the Moon
Penulis: Grace Lin
Penerbit: Atria
Tahun Terbit: 2010
Tebal: 261 Halaman
ISBN: 978-979-024-460-3

Sumber: Google

Sumber: Google

Jika kau membahagiakan mereka yang ada di dekatmu, mereka yang jauh darimu akan datang. (Halaman 238)

Kau hanya kehilangan apa yang kau pegang. (Halaman 130)

Di sebuah gubuk reyot di kaki Gunung Nirbuah Minli tinggal bersama kedua orang tuanya, Ma dan Ba. Mereka bekerja keras setiap hari di sawah, menanam padi yang hanya cukup untuk dimakan mereka bertiga. Setiap malam Ba menuturkan dongeng-dongeng tua tentang Naga Giok, Hakim Harimau yang jahat dan serakah, serta Kakek Rembulan yang menentukan nasib setiap orang. Dongeng-dongeng yang diceritakan Ba itulah yang membuat wajah Minli tetap berseri-seri walaupun kemiskinan dan kesuraman melanda desa mereka. Dongeng-dongeng Ba itu begitu mempengaruhi Minli hingga suatu hari Minli bertekad untuk berkelana mencari Kakek Rembulan untuk menanyakan cara merubah peruntungan keluarga mereka. Dibantu oleh seekor ikan mas yang memberikan minli jarum penunjuk arah, Minli pun berkelana ke Gunung Tak Berujung untuk mencari Kakek Rembulan.

Di perjalanannya Minli bertemu dengan teman-teman, termasuk Naga yang tidak bisa terbang dan seorang bocah penggembala yang membantunya mencari Gunung Tak Berujung. Perjalanan-perjalanan yang dilalui Minli menyadarkannya bahwa ternyata kisah-kisah yang dituturkan Ba bukan sekedar dongeng namun kisah itu benar terjadi.

Meskipun buku ini adalah karya asli Grace Lin, banyak tokoh, latar dan tema-tema yang diambil dari cerita rakyat tradisional Cina. Dongeng-dongeng yang diceritakan dibuku ini seperti dongeng-dongeng yang terpisah namun pada akhirnya kita akan tahu bahwa dongeng-dongeng tersebut ternyata berhubungan. Saya suka gaya penulisan dan terjemahan dari buku ini. Gaya berceritanya ringan dan mengalir. Pesan-pesan moral banyak bertebaran di buku ini meskipun tidak dikemukakan secara eksplisit. Pelajaran-pelajaran tentang rasa syukur, tekad, keberanian, perjuangan, dan tentang keluarga dapat kita temukan di buku ini.

Buku ini mungkin akan membuat kita tidak ingin berhenti di tengah jalan, karena tentu saja kita akan sangat penasaran tentang kisah Minli selanjutnya. Buku ini dilengkapi dengan ilustrasi yang indah dan sangat mewakili cerita yang disampaikan. Ditambah lagi penataan layout yang ciamik membuat saya harus mengacungan jempol untuk buku ini. Setiap dongeng yang diceritakan akan dibedakan layout nya sehingga kita lebih nyaman untuk membacanya.

Kekurangan buku? Untuk sementara saya belum menemukan kekurangan buku ini.
Kesimpulannya buku ini, menurut saya sangat worthy untuk diburu di toko buku.
Saya beri 4 dari 5 bintang

 

Oleh: Uci